Home

GAMBARAN SINGKAT MENGENAI MULTIMEDIA

Apa Yang Dimaksud Dengan Multimedia.

Multimedia adalah penggabungan dari dua kata yaitu, Multi dan Medium. Multi yaitu banyak atau bermacam-macam, sedangkan Medium yaitu sesuatu yang dipakai untuk menyampaikan atau membawa sesuatu. Medium dikatakan juga sebagai alat untuk mendistribusikan dan mempresentasikan.

Definisi Multimedia
Multi berasal daripada perkataan Latin ~ multus
Multus
bermaksud berbagai-bagai atau banyak (numerous)
Media perkataan jamak (plural) bagi medium
Dari segi bahasa media bermaksud sederhana ataupun bahantara
Maka, multimedia merupakan pelbagai cara atau kaedah untuk sampaikan maklumat

Definisi Multimedia Digital
Menurut Fluckiger, 1995:
Multimedia Digital merupakan satu bidang mengenai pengintegrasian teks, imej kaku, animasi, bunyi dan media-media lain yang dikawal oleh komputer di mana setiap maklumat boleh diwakilkan, disimpan, dipindahkan dan diproses secara digital.

Tujuan Mempelajari Multimedia diBidang Editing Video.

Setelah mempelajari multimedia, khususnya editing video diharapkan untuk bisa dan mampu  :

1)  Mengenali beberapa jenis format media video serta berbagai
karakteristik dari multimedia.

2)  Mengetahui kombinasi semua jenis media video untuk menyampaikan
informasi secara efektif dan efisien.

3)  Mengenali berbagai hardware dan software editing video serta
mempunyai kualitas hasil yang dapat digunakan dalam merancang aplikasi multimedia yang efektif dan interaktif.

4)  Mengetahui teknologi dan pengetahuan terhadap perangkat video editing, serta bagaimana melakukan editing video dengan menggunakan teknologi komputer.

Manfaat Multimedia.

Multimedia dapat digunakan :

  1. Bidang periklanan yang efektif dan interaktif.
  2. Bidang pendidikan dalam penyampaian bahan pengajaran secara interaktif dan dapat mempermudah pembelajaran karena didukung oleh berbagai aspek, seperti suara, video, animasi, taks, dan grafik.
  3. Bidang jaringan dan internet yang membantu dalam pembuatan webside yang menarik, informatif, dan interaktif.

Karier Multimedia.

Pemasaran, animasi, disain garfis, electronic publishing, editor, desain game, public relations, spesial efek, produksi video, dan web master.

Bagian-bagian Daripada Multimedia.

- Teks.

Bagian multimedia ini, yaitu menyangkan kata-kata dilayar dan merupakan layar utama dari hampir seluruh program. Teks masih merupakan cara cepat untuk menyampaikan informasi, jadi program akan selalu memakainya.

- Gambar.

Komputer multimedia dapat menayangkan gambar yang berkualitas dan
lebih banyak pengaruhnya dibanding dengan sekedar membaca.

- Film.

Dengan program multimedia, komputer dapat berubah menjadi
seperangkat TV yang bisa menyimpan potongan-potongan film kedalam
bentuk disk.

- Animasi

Dalam multimedia kata animasi dipakai untuk mendeskripsikan berbagai
jenis gambar yang bergerak, termasuk film.

- Suara.

Melalui program multimedia, maka anda bisa membuat berbagai jenis suara terdengar lebih menarik sesuai dengan keinginan kita.

Ciri-ciri Maklumat Multimedia
Maklumat Multimedia merupakan gabungan satu atau lebih media diskret dan media berterusan.
Contoh – Gabungan video dan teks.

Media Diskret :
Merupakan media berasaskan ruang .
Contoh – teks, imej, grafik.

Media Berterusan:
Merupakan media berasaskan masa.
Ia merupakan satu hubungan temporal.
Contoh – audio, video, animasi.

Hubungan Temporal Elemen Multimedia
Terbahagi kepada dua:
1. Synchoronous
2. Isochoronous.

Sistem Multimedia
Merupakan sistem yang berupaya untuk memproses, menyimpan, memanipulasi dan menghasilkan maklumat multimedia.

Ciri-ciri Sistem Multimedia
a. Dikawal oleh komputer
b. Bersepadu
c. Maklumat Digital
d. Saling tindak/interaktif

4 Jenis Mahasiswa, Anda Termasuk Yang Mana?

Pada saat menjadi mahasiswa baik di program S1, S2 maupun S3 di Jepang, saya mengalami berbagai proses pembelajaran yang kadang bikin geli kalau mengingatnya sekarang. Proses belajar ternyata membuat jenis dan karakter saya berubah-ubah. Kadang saya nggak sadar dengan ketidakmampuan saya, tapi kemudian kenyataan menyadarkan saya bahwa saya tidak mampu, dan akhirnya setelah saya belajar keras saya jadi sadar apa saja kemampuan saya. Di sisi lain agak sedikit berbahaya ketika saya tidak sadar dengan kemampuan saya. Jadi kayak bunglon dong? Hmm lebih tepatnya bunglon darat ;) . Terus saat ini anda termasuk jenis mahasiswa yang mana? Mari kita lihat bersama.

1. Mahasiswa Yang Tidak Sadar Akan Ketidakmampuannya (Unconsciously Incompetent)

Tahun 1994, kehidupan saya di Jepang di mulai. Saya beserta 14 orang yang lain sekolah bahasa Jepang di Shinjuku, nama sekolahnya Kokusai Gakuyukai. 1 tahun belajar bahasa Jepang, kita berhasil menghapal sekitar 1000 kanji. Kemampuan bahasa Jepang level 1 menurut Japanese Language Proficiency Test alias Nihongo Noryoku Shiken. Kebetulan karena saya senang nggombalin orang ngomong, percakapan bahasa Jepang saya cukup terasah (pera-pera). Di Kokusai Gakuyukai, kita juga diajari pelajaran dasar untuk Matematika, Fisika dan Kimia. Ini juga nggak masalah. Kurikulum Indonesia yang padat merayap plus rumus-rumus cepat ala bimbel :D , membuat soal-soal jadi relatif mudah dikerjakan. Karena saya newbie di dunia komputer, padahal harus masuk jurusan ilmu komputer, saya beli komputer murah untuk saya oprek. Newbie? yah bener, saya gaptek komputer waktu itu. Saya kerja keras, saya bongkar PC, saya copoti card-cardnya karena pingin tahu, sampe akhirnya rusak hehehe. Terus nyoba mulai install Windows 3.1. Lebih dari 3 bulan, tiap malam saya keloni terus itu komputer, jadi lumayan mahir lah. Tahun 1995, masuk ke Saitama University dengan sangat PD dan semangat membara :) . Nah pada tahap ini saya sebenarnya masuk ke jenis mahasiswa yang tidak sadar akan ketidakmampuannya. Dikiranya semua sesuai dengan yang dibayangkan dan diangankan.

2. Mahasiswa Yang Sadar Akan Ketidakmampuannya (Consciously Incompetent)

Masuk kampus, ternyata bekal kanji 1000 huruf nggak cukup. 1000 kanji itu level anak SD atau SMP di Jepang. Saya perlu lebih dari 30 menit untuk membaca 1 halaman buku textbook pelajaran, padahal orang Jepang hanya perlu 2-3 menit :( Kemahiran percakapan juga nggak banyak menolong karena mahasiswa Jepang membentuk grup-grup. Saya satu-satunya mahasiswa asing di Jurusan, nggak kebagian teman, meskipun sudah kerja keras tegur sapa, ngajak kenalan, nanya jam, nanya mata pelajaran, dsb. Matematika, Fisika, dan Kimia sebenarnya mudah, hanya masalahnya karena Kanji terbatas, kadang saya nggak ngerti yang ditanyain apa. Jadi kadang saya kerjasama dengan mahasiswa Jepang disamping saya, dia ngerti apa yang ditanyain, tapi nggak bisa ngerjakan. Sebaliknya saya nggak ngerti yang ditanyain, tapi sebenarnya bisa ngerjain … hehehe. Untuk praktek di lab komputer, ternyata semua pakai terminal Unix (Sun), sama sekali nggak ada mesin yang jalan under (Microsoft) Windows. Yang pasti, harus sering mainin command line di shell, untuk ngedit file hanya bisa pakai emacs, browsing hanya bisa pakai mosaic, laporan harus pakai latex, buat program harus pakai bahasa C atau perl (CGI) untuk yang berbasis web. Kenyataan membuat saya sadar akan ketidakmampuan saya :) .

3. Mahasiswa Yang Sadar Akan Kemampuannya (Consciously Competence)

Karena sadar bahwa banyak hal yang ternyata saya belum mampu, yang saya lakukan adalah belajar keras. Saya kurangi tidur, saya perbanyak baca, perbanyak beli buku, beli kamus elektronik, banyak diskusi dengan teman-teman mahasiswa Jepang. Saya mulai banyak bermain-main dengan Linux dan FreeBSD di rumah untuk kompatibilitas dengan tugas kampus. Nyambung internet dengan dialup, mulai belajar mengelola server, mulai membuat program kecil-kecilan dengan bahasa C dan Perl. Banyak kerja part time, mulai dari nyuci piring, interpreter, code tester dan programmer. Saya mulai aktif di dunia kemahasiswaan, baik di dalam kampus maupun di luar kampus, termasuk ikut mengurusi Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang sampai pernah terpilih jadi ketua umumnya. Knowledge dan skill di kampus terasah, experience dan manajemen keorganisasian juga terasah. Alhamdulillah saya mulai banyak punya teman Jepang, kadang makan bareng, main bareng atau ngoprek komputer bareng di asrama mereka. Untuk menambah ilmu kadigdayaan (sebenarnya sih untuk keperluan kerja part time ;) ), saya menambah peliharaan komputer di apartemen dengan Apple Macintosh dan beberapa Unix machine.

Tahun pertama dan kedua terlewati dengan baik, nilai lumayan dengan nuansa penuh kegembiraan. Saya berusaha semaksimal mungkin “menjual” kemampuan saya, baik dalam bentuk jasa alias sebagai interpeter, lecturer, programmer, software engineer, maupun dalam kemasan produk software yang saya buat (sistem informasi rumah sakit, sistem informasi periklanan, web application, network management system, dsb). Alhamdulillah saya sudah bisa mandiri dan mendapat banyak pengalaman dan keuntungan finansial mulai tahun ketiga kehidupan saya di Jepang, sehingga akhirnya saya putuskan menikah “dini” supaya lebih tenang, aman dan sehat ;) . Nah pada masa ini jenis saya adalah semakin sadar akan kemampuan saya :) .

4. Mahasiswa Yang Tidak Sadar Akan Kemampuannya (Unconsciously Competence)

Saya banyak ngejar kredit di tahun 1 dan 2, dengan harapan bisa tobikyu (loncat tingkat), meskipun saya kemudian nggak minat lagi karena ternyata di Jepang kalau kita loncat langsung ke program Master (S2), ijazah S1 nggak diberikan oleh Universitas. Resiko besar kalau saya balik Indonesia tanpa ijazah S1, urusan birokrasi pemerintahan (PNS) akan merepotkan, apalagi kalau nanti nyalon jadi walikota semarang, bisa kena pasal ijazah palsu … hehehe. Akhirnya tingkat 3 kuliah banyak kosong (sudah terambil di tingkat sebelumnya). Part time juga saya lebih selektif, hanya di bidang garapan saya saja, yang bisa kerja remote dan lebih bebas waktunya. Tidak ada lagi tempat untuk kerja kasar nyuci piring atau angkat karung. Saya terpaksa ambil mata kuliah jurusan lain untuk menjaga ritme kampus. Meskipun kadang ditolak professor pengajar, karena saya ambil mata kuliah semacam combustion, teknologi pendidikan, sistem tata kota, dsb yang nggak ada hubungan dengan computer science. Akhirnya karena keasyikan ngambil kredit, nggak sadar kelebihan kredit. Total terambil 170 kredit, padahal syarat lulus S1 hanya 118 kredit :D.

Sehari hampir 18 jam di depan komputer, kecuali tidur sekitar 6 jam, tugas kampus juga saya kerjakan dengan baik. Akhirnya masuklah saya ke masa, “nggak ngerti lagi mau ngapain di Internet” :D . Saya mulai suka iseng dan banyak aktif di dunia underground dengan berbagai nama samaran. Saya kadang membuat program looping tanpa stop untuk mbangunin admin kampus, alias men-downkan server karena overload CPU dan memori. Kadang nge-brute force account teman untuk ambil passwordnya, sehingga bisa baca email-email cintanya ;) . Sampai akhirnya saya pernah kena skorsing 3 bulan karena ngecrack account professor-professor di kampus. Nah di masa ini, saya berubah jenis sebagai mahasiswa yang nggak sadar bahwa punya kemampuan untuk berbuat negatif dan merusak kestabilan kampus :) .

Di sisi lain, saya banyak mendapatkan knowledge di Universitas, formal language dan automata, software project management, software metrics, requirement engineering, dsb yang pada saat dapat kita mikirnya ini nanti dipakai dimana yah :) . Tapi ternyata semua itu bekal yang cukup berguna ketika harus masuk ke dunia industri dan menggarap project-project yang lebih riil. Kondisi seperti ini juga termasuk dalam posisi yang tidak sadar akan kemampuannya :)

Yang paling penting, apapun jenis anda, jangan pernah menyerah dan ingin maju.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: